Garuda di dadaku
Garuda kebanggaanku
Ku yakin hari ini pasti menang..
Kobarkan semangatmu
Tunjukkan sportivitasmu
Ku yakin hari ini pasti menang..
Ketika mendengarkan lagu tersebut mengingatkan saya kembali pada kisah Bayu, seorang anak laki-laki bertubuh kecil kelas 6 Sekolah Dasar, yang memiliki kemampuan sepakbola lebih dibanding teman-teman seusianya, bahkan memiliki akurasi tendangan layaknya David Beckham dimana Bayu mampu menendang bola masuk ke jendela sebuah bis dari jarak yang cukup jauh. Bayu memiliki satu mimpi dalam hidupnya: menjadi pemain sepak bola hebat sehingga dapat menjadi pemain Timnas Indonesia dan dapat mengenakan seragam Garuda di dada. Meski sudah dilarang kakeknya karena sepakbola dianggap tidak memiliki masa depan yang cerah, namun Bayu tetap mencuri-curi waktu untuk dapat berlatih dan bermain sepakbola.
Setiap hari dengan penuh semangat ia menggiring bola menyusuri gang-gang di sekitar rumahnya sambil mendribble bola untuk sampai ke lapangan dan berlatih sendiri. Heri, sahabat Bayu penggila bola, yang sangat yakin akan kemampuan dan bakat Bayu selalu berusaha memotivasi Bayu untuk terus bermain bola dan meyakinkan Bayu agar mau ikut seleksi untuk masuk Tim Nasional U-13 yang nantinya akan mewakili Indonesia berlaga di arena internasional. Kita tentunya masih ingat film garapan Mizan Production ‘Garuda Didadaku’ yang menggugah dan mengajarkan rasa nasionalisme terutama bagi anak-anak. Terlebih didukung oleh lagu dengan judul yang sama tersebut yang menghadirkan semangat kecintaan dan dukungan terhadap Tim Nasional Indonesia.
Masih teringat jelas juga euforia masyarakat, bukan hanya kaum adam, tetapi juga wanita dan anak-anak, yang bersemangat mendukung Timnas Indonesia dalam ajang AFF 2010, saya begitu takjub dengan “sihir” kebanggaan akan nasionalisme yang “menghipnotis” bangsa ini, bahkan anak saya yang baru berumur 2 tahun pun ikut antusias mendengarkan dan mencoba bernyanyi mengikuti lagu Garuda di dadaku dan juga berlari sambil berteriak “gol…gol…gol…” ketika Gonzales, Irfan Bachdim, atau pemain timnas lainnya menyarangkan bola ke gawang lawan. Sekolah sepakbola dimanapun semakin banyak diminati anak-anak, dan bahkan sebagian orangtuapun sudah memasukkan daftar sebagai Pemain Bola dalam cita-cita anaknya, termasuk saya, walaupun setelah saya sadari ternyata anak saya tidak berbakat sepakbola.
Sebagian orang mempertanyakan apakah dengan menjadi suporter Tim Nasional sudah dapat dikatakan memiliki nasionalisme? Kok semudah itu? Setiap orang mungkin akan berbeda-beda menterjemahkan arti kata nasionalisme. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Nasionalisme adalah paham (ajaran) untuk mencintai bangsa dan negara sendiri; sifat kenasionalan: makin menjiwai bangsa Indonesia; kesadaran keanggotaan di suatu bangsa yg secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan mengabadikan identitas, integritas, kemakmuran, dan kekuatan bangsa itu; semangat kebangsaan. Point kata nasionalisme dalam KBBI menurut saya adalah adanya kecintaan terhadap bangsa dan negara sehingga secara bersama-sama mengabdikan diri untuk mencapai kemakmuran tentunya dengan berbagai cara di berbagai bidang. Harus diakui bahwa Nasionalisme gaya sepakbola menjadi trend baru yang mampu menyedot masyarakat dari berbagai suku, bangsa, agama, daerah, usia untuk menyaksikan Timnas bertanding, bahkan rela menginap di depan loket untuk mendapatkan tiket menyaksikan pertandingan secara langsung. Cara seperti apalagi yang dapat menggerakkan puluhan ribu masyarakat Indonesia untuk menyanyikan Lagu Indonesia Raya secara bangga dan serentak, di stadion maupun di rumah, topik apalagi yang dapat mengalahkan perbincangan tentang Timnas di twitter maupun facebook pada saat timnas akan dan selesai bertanding…? Fenomena tersebut menunjukkan bahwa sepakbola merupakan salah satu cara paling efektif membangkitkan kecintaan terhadap tanah air.
Euforia tersebut juga melanda anak-anak, disetiap lapangan, tanah kosong, bahkan di gang-gang sempit anak-anak semakin rajin bermain dengan “si kulit bundar”. Setiap pertandingan timnas hampir tidak pernah ketinggalan, dan orang tua pun harus rela keliling kota untuk mendapatkan seragam Timnas untuk si buah hati karena sold out di setiap toko.
Situasi tersebut jangan sampai hanya menjadi euforia semu yang hanya berlangsung sesaat, dimana ketika timnas tidak bermain rasa kecintaan terhadap Indonesia pun terlupakan. Seharusnya situasi tersebut dapat dimanfaatkan secara lebih baik untuk dapat menanamkan nilai-nilai nasionalisme kepada putra-putri kita, Bukan hanya menajdikan mereka cinta dan bangga, tapi juga mampu berkarya bagi Indonesia, sehingga sampai kapanpun dan dimanapun mereka berada, mereka akan dengan bangga mengatakan “GARUDA SELALU DIDADAKU”.